BIRAHI SANG SUSTER
Saat Tubuh Belajar Bahasa yang Sama, kita menyadari ada signal datang menghampiri.
Cerita ini berawal dari perjalananku ke kota Depok. Saya berkenalan dengan Diah sang gadis manis cantik rupawan. Dalam perjalanan itu, saya Doni anak perantauan yang sudah terbiasa bermain dari kota ke kota akhirnya menemukan tempat nongkrong yang asyik dan seru. Dari Depok ke Jakarta hanya membutuhkan waktu yang tidak lebih dari 1jam di kala itu. Kami melanjutkan perjalanan kami ke sebuah Club Diskotik area Jakarta Selatan, tepatnya di sekitaran Kemang.
Gemerlap kota Jakarta telah lama membayangiku, hingga akhirnya aku berkesempatan tinggal di kota Metropolitan ini. Di Jakarta, kami rutin nongkrong setiap malam minggu, dan di setiap kesempatan itu pula kita juga menghabiskan waktu ajeb-ajeb sepanjang malam sambil bergembira-ria.
Cerita ini terjadi di pertemuan pertama kali Saya dan Diah. Awal berkenalan, kita masih biasa aja, sambil nikmati suasana di dalam diskotik yang berisik. Diah ternyata seorang suster yang sudah lama berhenti bekerja dan sedang menikmati kesendiriannya.
Kesan Pertama Selalu Menggoda
Senyumannya selalu terngiang di benak pikiranku sejak pertama kali kami bertemu. Keadaan berbalik seketika, tanpa disadari kami mulai terkoneksi dan saling meratapi dalam kegelapan.
Pelukan itu tidak datang tiba-tiba. Ia tumbuh dari jarak yang menyempit, dari bahu yang saling bersentuhan, dari napas yang mulai tak sinkron.
Tanganku berada di punggungnya, awal yang ragu, lalu mantap. Bukan untuk menahan, tapi memastikan ia ada. Signal Nyata mulai terlihat jelas. Diah mulai menerima sambutan ku.
Ia tidak berkata apa-apa ketika kepalanya bersandar di dadaku. Namun tubuhnya menjawab lebih jujur daripada kata-kata. Ada fase di mana waktu berhenti bergerak maju.
Segalanya menjadi lambat dan terukur. Alunan Lagu seakan menjadi saksi semua ini. Gerakan kecil menjadi penting, cara jari menelusuri, cara napas berubah, cara diam berubah makna. Sampai di tahap ini, kami pun mulai saling membaca. Bukan dengan mata, melainkan dengan tekanan, jeda, dan respons yang tak bisa dipalsukan. Seru dan malu-malu tapi mau.
Selanjutnya Terserah Anda
Sampai tibalah ketika intensitas meningkat, ritmenya berubah. Yang semula ragu menjadi yakin. Yang semula bertanya menjadi meminta. Tidak ada hitungan, tidak ada arahan. Tubuh tahu kapan harus menyesuaikan, kapan harus memimpin, kapan harus menyerah.
Dan pada akhirnya, bukan ledakan yang paling kuingat. Melainkan keheningan sesudahnya saat dua napas kembali selaras,dan dunia terasa sedikit lebih sunyi. Setelah puas berjoget-ria, kami semua pun memutuskan untuk melanjutkan keseruan kami dengan singgah ke salah satu hotel terdekat. Semua ini terjadi begitu saja, seakan tanpa berkata apapun kita berdua sudah sepakat apa pun yang terjadi. Karena suasana masih pagi dan hari terasa masih panjang, kita lanjut aja.
Di dalam kamar tanpa basa-basi, saya mulai melancarkan aksi yang paling dinanti-nantikan. Masih terbayang jelas di saat itu, Diah yang terlihat sudah sangat berpengalaman yang mulai memimpin serta mendominasi percakapan. "Don, Joni mu besar banget!!! Aku mau, udah ga sabaran nih!"ujar Diah desah panjang. Dibawah pengaruh alkohol dan inek yang masih belum hilang sepenuhnya, napsu membara tak terbendung karena efek dari obat masih terasa.
Keringat yang dirasakan sangat heboh luar biasa. Serasa seperti lagi tawuran di masa sekolah. Saat itu kami berdua lagi di puncak kenikmatan nafsu birahi. "Dedek, buka kedua kakimu lebih lebar. Joniku siap masuk ke dalam memporak-porandakan goa terowongan yang gelap itu." ujar ku sambil berseloroh. "
Setelah puas bergoyang sambil beberapa kali berganti gaya. Saya pun mulai memberi kode ke diah, sekarang buka mulut nya sayang." biar tak masukin Joni ke dalam mulut, Diah pun menyambut dengan tangan kanan nya meremas penisku sambil mengocokkan dengan lembut.




Belum ada Komentar untuk "BIRAHI SANG SUSTER "
Posting Komentar