NAFSU BIRAHI TETANGGAKU

 

Mbak Tini Tetanggaku Yang Seksi

Perkenalkan Namaku Gio mahasiswa di sebuah universitas terkenal di Jawa Timur, Surabaya. 

Cerita di Situs Majalah Dewasa ini tentang aksi yang kepergok lagi ngintip tetanganya masturbasi di kamar mandi. Si anak yang asyik mengintip dari lubang rahasia itu terangsang dan mulai pengen merasakannya sendiri. Akhirnya mereka pun ML bersama juga.


Alkisah di kampungku sebuah desa di pinggiran kota Jember ada seorang gadis, Tini namanya. Tini merupakan gadis yang cantik, berkulit putih mulus dengan body sexy yang padat didukung postur tubuh yang tinggi membuat semua kaum Adam menelan ludah dibuatnya. Buah dadanya terlihat seakan mau nongol keluar karena memang besar dan jadi pusat perhatian semua orang.

Apalagi di kota Jember itu terkenal anak gadisnya tuh semua lemah lembut gemulai dan sangat siap melayani pasangan mereka loh. Kita mulai cerita ini yah.


Aku yang kala itu lebih muda 3 tahun dibanding Tini, tetap mengidolakannya, setiap membayangkan dirinya selalu fantasi seks pun bergejolak tak menentu. Apalagi kalo pas bertemu gitu bisa salah tingkah doski.

Kamar Mbak Tini berada di samping kanan rumahku, dengan sebuah jendela kaca gelap ukuran sedang. Aku sering melihat dirinya abis mandi, cuci pakaian dalamnya yang bermacam modelnya. Kutang berenda hingga CD trasnparan yang rendanya bikin ngaceng. Karena rumah Tini itu pas di sampingku, dan memang rumah disitu gak ada kamar mandi di dalamnya.

Nafsu Sex Tak Tersalurkan

Yang ada cuma bilik kecil yang ada di luar rumah.  Kebiasaan Mbak Tini jika tidur lampu dalam rumahnya tetap menyala, itu kuketahui karena kebiasaan burukku yang suka mengintip orang tidur, karena dekat jaraknya, jadi aku sering mengalihkan perhatianku kesitu.

Menurut firasatku, Tini punya aura yang spesial sehinga mampu membuat aku sangat terangsang jika melihat Mbak Tini sedang tidur dan akhirnya aku melakukan onani di jendela kamar Mbak Tini. 

Bahkan aku masi ingat waktu itu aku pulang dari kuliah lewat belakang rumah karena sebelumnya aku membeli rokok di depan warung yang berada di dekat rumahku. Guess what? Saat aku melewati bilik Mbak Tini, aku melihat sosok tubuh yang sangat kukenal yang hanya terbungkus handuk putih tipis hampir tembus pandang. 

Ëh, ada Mbak Tini, dan aku menyapanya, "Mau mandi Mbak," sambil menahan perasaan yang tak menentu. "Iya Gio, mau ikutan.." jawabnya dengan senyum lebar, aku hanya tertawa menanggapi candanya. Ngaceng endase!!!


Menahan diri selalu menjadi pilihan Benar kah?

Terbersit benih hasrat nafsu di pikiranku, perasaanku menerawang jauh membanyangkan tubuh tertutup sehelai benangpun. Mbak Tini bila tidak menyapaku tadi, aku gak bakal ke-GE-ER-an. Aku seperti kerasukan dan tak sanggup menahan napsuku.

Niat itupun kulakukan walau dengan tubuh gemetar dan detak jantung yang memburu, kebetulan waktu itu keadaan sunyi dengan keremangan sore membuatku lebih leluasa berjalan ke arah belakang.

Kemudian aku mempelajari situasi di sekitar bilik tempat Mbak Tini mandi, setelah memperkirakan keadaan aman aku mulai perlahan melancarkan aksiku dan mengendap-endap mendekati bilik itu. Demi tuhan detak jantungku seperti honda beat yang melaju kencang tanpa rem. Aku mencari tempat yang strategis untuk mengintip Mbak Tini mandi dan dengan mudah aku menemukan sebuah lubang yang cukup nyaman, seukuran jari besar orang dewasa.

Dari lubang itu aku mulai merasakan hawa panas yang tiba-tiba mendidih. Penisku ngaceng tanpa perintah otak. Aku cukup leluasa menikmati kemolekan dan keindahan tubuh Mbak Tini dan seketika itu juga aku tanpa sadar mulai coli di tempat.Tubuhku gemetar hingga kakiku terasa tidak dapat menahan berat badanku. Kulihat tubuh yang begitu putih mulus dan padat dengan kulit yang bersih mulus begitu merangsang setiap nafsu lelaki yang melihatnya, apalagi sepasang panyudara dengan ukuran yang begitu menggairahkan. 

Puting yang masih warna pink itu tegak menantang setiap lelaki. Kemudian kupelototi tubuhnya dari atas ke bawah tanpa terlewat satu senti pun. Tepat di antara kedua kaki yang panjang itu ada segumpal rambut yang lebat dan hitam, begitu indah dan saat itu tanpa sadar aku mulai menurunkan reitsletingku dan terus memegangi kemaluanku. 

Aku mulai membayangkan seandainya aku dapat menyetubuhi tubuh Mbak Tini yang begitu merangsang birahiku. Terasa darahku mengalir dengan cepat dan dengusan nafasku semakin memburu tatkala aku merasakan kemaluanku begitu keras dan berdenyut-denyut.


Kesempatan yang Datang saat kita Lengah

Aku mempercepat gerakan tanganku mengocok kemaluanku, tanpa sadar aku mendesah hingga mengusik keasyikan Mbak Tini mandi dan aku begitu terkejut juga takut ketika melihat Mbak Tini melirik lubang tempatku mengintipnya mandi sambil berkata, "Gioooo..Ngintip yah?" ujarnya gelisah.

Aku yang kaget gak karuan, langsung mundur teratur. Kucabut rokok Gudang Garamku, sambil nyandar di tembok luar rumahku. Kemudian aku seperti belum puas dan ingin menuntaskan apa yang sudah ku mulai tadi.

Setelah aku mulai beraksi lagi, aku terkejut untuk kedua kalinya, seakan-akan Mbak Tini tahu akan kehadiranku lagi. Ia sengaja memamerkan keindahan tubuhnya dengan meliuk-liukkan tubuhnya dan meremas-remas payudaranya yang begitu indah dan ia mendesah-desah kenikmatan. 

"Wah, ini petanda baik buatku."pikirku dalam hati. 

Sontak tanpa ragu lagi, aku mengeluarkan kemaluanku dan mengocoknya kuat-kuat. Melihat permainan yang di perlihatkan Mbak Tini, aku sangat terangsang dan aku beneran memikirkan mau masuk menerobos masuk bilik itu tanpa rasa takut dan malu. Tapi, ya sudahlah, sabar dulu.

Mungkin besok lusa masih bisa, ujarku dalam hati. Toh juga Mbak Tini sudah kasi signal bagus buat aku masuk, pikirku. Daripada aku hanya bisa melihat dari lubang tempatku mengintip. Kemudian Mbak Tini mulai meraba-raba seluruh tubuhnya dengan tangannya yang halus disertai goyangan-goyangan pinggul, tangan kanannya berhenti tepat di liang kewanitaannya dan mulai mengusap-usap bibir kemaluannya sendiri sambil tangannya yang lain di masukkan ke bibirnya. 

Buset dah! Kemudian jemari tangannya mulai dipermainkan di atas kemaluannya yang begitu menantang dengan posisi salah satu kaki diangkat di atas mandi, pose yang sangat merangsang kejantananku. 

Aku merasa ada sesuatu yang mendesak keluar di kemaluanku dan akhirnya sambil lirih, "Aahhkkkhh..." aku mengalami puncak kepuasan dengan melakukan onani sambil bak mendesah melihat Mbak Tini masturbasi. Ternyata kita sefrekuensi. Beberapa saat kemudian aku juga mendengar Mbak Tini mendesah lirih, "Oohhh.. aaahh.." dia juga mencapai puncak kenikmatannya.

Tidak ada niat buruk sejak awal.

Di suatu sore menjelang mahgrib aku berpapasan dengan Mbak Tini 

"Sini Gio," ajaknya untuk mendekat, aku hanya mengikuti kemauannya, terbersit perasaan bersalah karena ketauan ngintip doi mandi kemarin. 

"Sini aja temani Mbak Tini ngobrol, Mbak Tini kesepian nih.." ajak Mbak Tini. 

Mbak Tini dengan terusan daster tidur nya mulai membuka bagian tengah kaki nya dan mengarahkan ke arah mataku. 

"Gio, di rumah Mbak Tini lagi gak ada orang tuh, semua lagi kondangan. Main ke rumah yuk."ajaknya.

 "Emangnya kondangan siapa, Mbak.." tiba-tiba lutut ku pun mulai lemas karena ajakan mba Tini. 

Aku mulai menyelidik. "Bapak sama Ibu pergi ke rumah nenek," jawabnya sambil tersenyum curiga. "Emang pulangnya jam berapa Mbak?," tanyaku lagi sambil melirik paha yang halus mulus itu ketika daster mbak Tini mulai dilipat naik sampai ke paha atas.

Aku mulai tersenyum dan itu semakin jelas disambut mbak Tini yang juga senyum manis. Nenek lagi sakit Gio, yaa... jadi aku harus nunggu di rumah sendiri." 

Aku hanya mengangguk dan kami pun bergerak ke rumah nya mbak Tini.

Ternyata di ruang tamu nya banyak CD porno yang berserak. Aku pun mulai tertuju kesitu dan tanpa kusadari, mbak Tini mulai memberikan ku 1 CD favoritnya untuk diputar dan nonton bersama.

Setelah film terputar, tanpa sadar kami mulai duduk berdekatan, langsung tanpa basa basi mbak Tini membuka celanaku dan mengisap penisku yang sudah tegang tak menentu itu. 

Aku melihat arloji yang tergantung di dinding tembok di atas TV menandakan tepat jam 10 malam. Aku menebarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang nampak sepi dan tak kutemui siapapun selain Mbak Tini yang lagi asik mengisap penisku sampai mendesah kegirangan. 

"Slurppp... SLURPPP...." sambil meneteskan air liur yang membanjiri buah zakarku itu.

Pikiranku mulai dirasuki pikiran-pikiran yang buruk dan pikirku sekalian tidur disini aja. Tapi, kalo ketahuan bisa gawat juga pikirku.

Memang aku sering tidur di rumah teman dan orang tuaku sudah hafal dengan kebiasaanku, akupun tidak mencemaskan jika orang tuaku mencariku. Hanya saja ini kan takutnya keluarga mbak Tini yang tiba-tiba pulang.

Mbak Tini pun akhirnya mempercepat tempo permainan kami, pintu kamar Mbak Tini terbuka lebar dan di atas tempat tidurnya, ia mulai tergolek memamerkan sosok tubuhnya yang indah dengan posisi terlentang dengan kaki ditekuk ke atas setengah lutut hingga kelihatan sepasang paha yang gempal.

Aku mulai mengarahkan penisku dan di tengah selakangan itu terlihat dengan jelas CD yang berwarna putih berkembang terlihat ada gundukan yang seakan-akan penuh dengan isi hingga mau keluar.

Batang Perjakaku hilang di rumah Mbak Tini

Goyangan pertamaku agak meragukan, padahal sering nonton bokep tapi pas praktek ternyata agak ragu. Aku kagok sekaligus kagum melihat Tubuh mbak Tini yang hanya dibungkus dengan kain tipis dan dengan perlahan kusentuh paha yang putih itu, kuusap dari bawah sampai ke atas dan aku terkejut ketika ada gerakan pada tubuh Mbak Tini dan mbak Tini berusaha membuatku tenang.

Dia menggoyang-goyangkan pantatnya, seakan memberi isyarat untuk berganti gaya. Nungging dan sambil menamparkan pantatnya, aku pun tanpa pikir panjang melakukan gaya doggy style.

Kedua tanganku menahan pantat mbak Tini sambil mencengkramnya kuat, dengan penuh gairah dan mempercepat, suara mbak Tini pun semakin kuat. Aku menarik satu tangan kanan mbak Tini dan mempercepat lagi goyanganku. 

Plak-plak-plakkkkk!!! Äyo Gio, Lebih kuat lagi."ucap mbak Tini. 


Bosan dengan gaya nungging, aku mulai ganti posisi. Badanku terlentang lurus, dan mbak Tini mengarahkan kemaluannya tepat di depan mulutku. 

Öh my GADDDDDD" aku seperti melihat daging empuk di hadapnku, aku mulai menjilati bibir kemaluannya hingga CD yang semula kering menjadi basah terkena cairan yang keluar dari dalam liang kewanitaan Tini dan bercampur dengan air liurku. Mbak"Tin juga gak mau kalah mulai Blow job penisku yang ia emut tak mau lepas itu. 

"Punyamu besar juga, Gio" aku suka tipe gitu, kata mbak Tini ibarat menjilat es ganepo mas Tejo langganan belakang rumah kami itu. Posisi 69 pun tak terhindarkan dengan posisi ku di bawah dan mbak Tini di atas. 

"Habis ini, aku di atas yah, kata mbak Tini, seraya memberitahu bahwa dia sudah mulai mau keluar.

Dengan perasaan berat aku menghempaskan pantatku ke sofa biru yang lusuh. Sesaat kemudian Mbak Tini menghampiriku, "Yuk, kita gaya berdiri aja, kamu sodok dari bawah sambil posisis serong agak miring yah, kata mbak Tini sambil mengarahkan ku.


"AHHHHHH....Uhhh...Ouhhhh... Mbak..ayo nyandar ke tembok aja" Mbak Tini cuma diam entah apa yang dipikirkan dan dia sambil meletakkan satu tangannya ke tembok dekat jendela. 

Bisikan nama ku mulai ia desahkan keluar secara bertahap, "Giiiii..ooo... aukhhh...aku uda mau nih.

Ternyata Mbak Tini punya kebiasaan kalau udah mau keluar, ia suka gaya missionary. 

"Yok, kamu goyang sekencang-kencangnya yah."ini moment terbaiku, pikirku.

"Aaahhh..." desahan kenikmatan yang membuatku tambah bernafsu dan langsung bibir kemaluannya yang merah merekah itu kujilati sampai basah oleh air liur dan cairan yang dari liang kenikmatan Mbak Tini. keluar

Aku bak mesin foto kopi yang maju mundur dengan kecepatan secepat mesin jahit ibuku di rumah. Klimaks tak terhindarkan, aku langsung cabut keluar penisku dan mbak tini pun sibuk memegang batang kemaluanku yang sudah membesar dan tegak berdiri, 

"CROTTTTTTT.....CROTTTT.."kemudian langsung diremas-remas dan diciumnya. Persaanku campur aduk. Aku melihat jelas saat bibir yang lembut itu mengecup batang kemaluanku hingga basah oleh air liurnya yang hangat. Ditambah lagi lidah yang hangat itu menjilati hingga menimbulkan kenikmatan yang tak dapat digambarkan.

Tidak puas menjilati batang kemaluanku, Mbak Tini memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya yang sensual itu hingga hampir terkena tenggorokannya, secara refleks kugoyangkan pantatku maju mundur dengan pelan sambil memegangi rambut Mbak Tini yang hitam dan lembut yang menambah gairah seksualku dan aroma harum yang membuatku semakin terangsang.

Seakan gak pernah puas, Mbak Tini menghempaskan pantatnya di sofa. Akupun paham dan dengan posisi kaki Mbak Tini mengangkang menyuruhku gantian untuk menjilati Vagina-nya.

Suasana itu begitu indah dan merangsangnya liang sorga Mbak Tini ketika klitoris yang memerah menjulur keluar dan langsung kujilati hingga Mbak Tini meronta-ronta kenikmatan

"Gantian dong, Yokkkk.."panggilan Gio sayang kepada diriku.

Ia memintaku bergantian memberi kenikmatan kepadanya. Kemudian aku memainkan kedua puting susu Mbak Tini, mulutku mulai bergerak seperti radio yang lagi cari signal hilang. 

Enak Gio, ayo kita lanjut ronde 2 di bak kamar mandi, Mbak Tini mulai menyuruh memasukkan batang kemaluanku ke liang senggamanya yang sejak tadi menunggu hujaman kemaluanku. 

Ronde 2 pun tak terhindarkan. Kemudian aku memegang batang kemaluanku dan mulai memasukkan ke liang kewanitaan Mbak Tini. "Aahhh..." kami bersamaan merintih kenikmatan, Ronde 2 ini pasti akan lebih panjang, Gio" ujar mbak Tini yang sudah berpengalaman.

Terasa cairan hangat membasahi batang kemaluanku dan suara decakan itupun semakin membecek

Dan benar, kami pun menghabiskan waktu yang lebih lama lagi di ronde 2 itu.

Terasa tulang-tulangku lepas semua, begitu capek. Akupun tetap berada di atas tubuh sintal Mbak Tini. Kemudian kukecup leher dan mulut Mbak Tini, Tini "Makasih Mbak, Mbak memang hebat.."

Mbak Tinipun cuma tersenyum manis..Besok-besok kita gantian ke rumahmu ya, atau kita sewa hotel aja di pinggiran kota. Masih Kuat kan?? Anak Muda Gio tak pernah menyerah untuk tetap mengikuti kemanapun mbak Tini pergi.




Belum ada Komentar untuk "NAFSU BIRAHI TETANGGAKU "

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel