SURTI REMAJA ANAK PAK KADES
Hujan yang tak kunjung henti, membuat penat hati seketika tak berarti. Jemuran di pagi hari gak kering-kering. Hanya mampu meratapi semua ini. Terlebih lagi ketika Sentuhan fisik tak terpenuhi, godaan hati pun meronta-ronta mendambakan hasrat.
Lampu tetangga di belakang rumah masih menyala. Surti gadis manis asal Malang itu masih belum tidur. Malam yang gelap dibalut dinginnya angin sepoi, tebarkan udara yang masih terasa basah oleh sesuatu yang tak terlihat barangkali oleh perasaan yang sejak lama bersembunyi di antara jarak belakang rumah kami. Sambil menunggu malam lebih larut lagi, akhirnya tiba juga.
Sambil melempar batu kecil ke arah jendela belakangnya, ia pun menoleh sambil membuka kaca jendela kecil di belakang rumah, namun tidak berkata apa-apa.
Aku pun demikian.Sambil melambaikan tanganku ke arah jendela, ia pun menerima kode yang saya maksud. Ajakan untuk menjemput dirinya pun tersampaikan melalui komunikasi rahasia kami.
Sambil melompat dari pagar di pinggir pekarangan, akhirnya Surti berhasil keluar dan kami pun jalan bersama. Selama perjalanan lebih banyak diam namun hati sesama serasa bahagia.
Namun diam di antara dua orang dewasa terkadang jauh lebih berisik daripada percakapan panjang. Akhirnya kami tiba di dalam rumah kos-kosan saya dan duduk di ranjang kasur hangat yang sudah menanti kami berdua. Tangannya terletak di tepi kasur, hanya sejengkal dari milikku.
Tak menyentuh. Tak bergerak. Tetapi kehadirannya terasa seperti bisikan yang terus-menerus memanggil. Aku memperhatikan caranya menarik napas. Pelan, seolah menahan sesuatu.
Mungkin keinginan. Mungkin kenangan. Atau mungkin sekadar keberanian yang belum sempat lahir. Sentuhan itu tidak pernah terjadi. Namun justru di situlah letak godaannya.
Jantungku semakin berdebar kencang, nafas mulai gak beraturan. Ada apa gerangan? Kubayangkan kulit putih mulus yang belum pernah tersentuh itu, kata-kata yang belum diucapkan, si Joni pun mulai mengerang bak singa yang hendak meraung-raung buas dalam keheningan malam.
Mata Surti mulai menoleh. Siwajah dewasa bukan menatapku sepenuhnya, hanya sekilas. Namun cukup untuk membuat jantungku lupa bagaimana caranya berdetak dengan tenang. Dalam dunia orang dewasa, tidak semua gairah perlu diumumkan. Sebagian justru tumbuh subur dalam keterpendaman. Dalam isyarat kecil. Dalam bahasa tubuh yang pura-pura biasa.
Aku sadar satu hal malam itu: bahwa sentuhan paling berbahaya adalah siapa yang memulai duluan, hingga kini, aku masih mengingatnya, bukan karena apa yang kami lakukan, melainkan karena apa yang nyaris terjadi. Kebayang dong apa aja kira-kira?
- Berduaan di kamar sambil telanjang
- Seharian bermalam-minggu malam yang panjang
- Nikmat apa lagi yang kau dusta
Akhrnya semua pun terjadi begitu saja, perlahan aku mulai meraih baju piyama yang lembut tipis yang ia kenakan. Perlahan mulai kulepas satu per satu helai penutup indahnya kedua buah dada nya yang bulat dan hangat. Akh, Surti mulai pasrah dan menyerahkan segalanya kepadaku.
Aku mulai dari ciuman kecil di sekitar wajah dan telinga sambil menghela nafas desah. Di saat bersamaan Joni pun mulai perlahan merapat ke dua belah kaki Surti. Hawa panas mulai terasa. Kami menikmati malam yang seakan detik jam pun berhenti sejenak. Dunia milik berdua, Surti mulai merasakan guncangan dari Joni kecil ku.
Nafas ku seakan terhenti, sambil meremas kedua buah dada nya yang masih kencang. Surti juga tidak kalah ganas, tangan nya mulai meremas Joni di bagian bawahku. Semua terjadi begitu saja, berbagai macam gaya pun kami lakoni bersama. Dan desahan suara Surti pun semakin menjadi. Dia sangat menikmatinya, seakan semua penat terhempaskan.





Belum ada Komentar untuk "SURTI REMAJA ANAK PAK KADES"
Posting Komentar