SURTI REMAJA ANAK PAK KADES

 

Hujan yang tak kunjung henti, membuat penat hati seketika tak berarti. Jemuran di pagi hari gak kering-kering. Hanya mampu meratapi semua ini. Terlebih lagi ketika Sentuhan fisik tak terpenuhi, godaan hati pun meronta-ronta mendambakan hasrat.

⚠ KHUSUS 18 TAHUN KE ATAS ⚠


Lampu tetangga di belakang rumah masih menyala. Surti gadis manis asal Malang itu masih belum tidur. Malam yang gelap dibalut dinginnya angin sepoi, tebarkan udara yang masih terasa basah oleh sesuatu yang tak terlihat barangkali oleh perasaan yang sejak lama bersembunyi di antara jarak belakang rumah kami. Sambil menunggu malam lebih larut lagi, akhirnya tiba juga.

Sambil melempar batu kecil ke arah jendela belakangnya, ia pun menoleh sambil membuka kaca jendela kecil di belakang rumah, namun tidak berkata apa-apa.

Aku pun demikian.Sambil melambaikan tanganku ke arah jendela, ia pun menerima kode yang saya maksud. Ajakan untuk menjemput dirinya pun tersampaikan melalui komunikasi rahasia kami.

Sambil melompat dari pagar di pinggir pekarangan, akhirnya Surti berhasil keluar dan kami pun jalan bersama. Selama perjalanan lebih banyak diam namun hati sesama serasa bahagia.

Namun diam di antara dua orang dewasa terkadang jauh lebih berisik daripada percakapan panjang. Akhirnya kami tiba di dalam rumah kos-kosan saya dan duduk di ranjang kasur hangat yang sudah menanti kami berdua. Tangannya terletak di tepi kasur, hanya sejengkal dari milikku.

Tak menyentuh. Tak bergerak. Tetapi kehadirannya terasa seperti bisikan yang terus-menerus memanggil. Aku memperhatikan caranya menarik napas. Pelan, seolah menahan sesuatu.

Mungkin keinginan. Mungkin kenangan. Atau mungkin sekadar keberanian yang belum sempat lahir. Sentuhan itu tidak pernah terjadi. Namun justru di situlah letak godaannya.

Jantungku semakin berdebar kencang, nafas mulai gak beraturan. Ada apa gerangan? Kubayangkan kulit putih mulus yang belum pernah tersentuh itu, kata-kata yang belum diucapkan, si Joni pun mulai mengerang bak singa yang hendak meraung-raung buas dalam keheningan malam.

Mata Surti mulai menoleh. Siwajah dewasa bukan menatapku sepenuhnya, hanya sekilas. Namun cukup untuk membuat jantungku lupa bagaimana caranya berdetak dengan tenang. Dalam dunia orang dewasa, tidak semua gairah perlu diumumkan. Sebagian justru tumbuh subur dalam keterpendaman. Dalam isyarat kecil. Dalam bahasa tubuh yang pura-pura biasa.

Aku sadar satu hal malam itu: bahwa sentuhan paling berbahaya adalah siapa yang memulai duluan, hingga kini, aku masih mengingatnya, bukan karena apa yang kami lakukan, melainkan karena apa yang nyaris terjadi. Kebayang dong apa aja kira-kira?

  1. Berduaan di kamar sambil telanjang
  2. Seharian bermalam-minggu malam yang panjang
  3. Nikmat apa lagi yang kau dusta

Akhrnya semua pun terjadi begitu saja, perlahan aku mulai meraih baju piyama yang lembut tipis yang ia kenakan. Perlahan mulai kulepas satu per satu helai penutup indahnya kedua buah dada nya yang bulat dan hangat. Akh, Surti mulai pasrah dan menyerahkan segalanya kepadaku.

Aku mulai dari ciuman kecil di sekitar wajah dan telinga sambil menghela nafas desah. Di saat bersamaan Joni pun mulai perlahan merapat ke dua belah kaki Surti. Hawa panas mulai terasa. Kami menikmati malam yang seakan detik jam pun berhenti sejenak. Dunia milik berdua, Surti mulai merasakan guncangan dari Joni kecil ku.

Nafas ku seakan terhenti, sambil meremas kedua buah dada nya yang masih kencang. Surti juga tidak kalah ganas, tangan nya mulai meremas Joni di bagian bawahku. Semua terjadi begitu saja, berbagai macam gaya pun kami lakoni bersama. Dan desahan suara Surti pun semakin menjadi. Dia sangat menikmatinya, seakan semua penat terhempaskan. 

⚠ KHUSUS 18 TAHUN KE ATAS ⚠


Wajah cantik Surti tidak cukup untuk memuaskan napsu terpendamku. Tubuh mungilnya dengan dada yang bulat penuh menyadariku. Aku sangat beruntung sekali, tanganya yang mulus terlihat halus. Aku mulai berdiri dan Surti pun langsung memasang posisi jongkok untuk mulai mengarahkan mulutnya ke Joni. öhhhh.."hmmm... sshhh... Non, enakkkkkkk....ahhhh!!! desahku di ujung kenikmatanku mulai tak terbendung. Dengan sangat lahap Surti mengobok-obok Joniku, tak luput juga tangan nya sesekali memegang buah zakarku yang menggelantung akibat goncangan bibir halusnya.

Dari bawah kami pun berganti gaya sambil berdiri di samping jendela, kami seakan tak merasakan lelah apapun. "Maaf, non, kamu kurang nungging ke bawah, biar Joni lebih berasa nusuk ke paling bawah vagina nya."ujarku sambil nafas terhelah.

"Ohh, montoknya"desisku dengan nafas mulai terenggal, aku sambil meremas buah dada Surti yang masih terlihat dan bergoyangan kecil. Surti mulai terlihat responsif, ia pun meraih tanganku sambil memberikan kode seakan menyuruh agak aku lebih kuat dan kenceng lagi goyangnya.

Surti mulai terangsang, pikirku. Desahan dari bibir Surti membuatku semakin tak terkontrol. Kami pun berganti posisi ke sofa dan sambil menjilati buah payudara di hadapanku itu, aku hisap dengan bibir dan mulutku membuat desahan Surti makin terdengar. 


Surti masih muda dan energik, goyangan nya pun dahsyat luar biasa. Kami mulai memasuki puncak dan kedua tangan Surti mulai meremas pinggang ku dengan sangat kencang. Aku pun goyang semakin kuat dan kencang, Surti pun makin mendesah, suara terakhir keluar dari Surti öhhhh.. aku udah keluar masssssss..." rintihan itu membuatku semakin merasakan nikmat pada penisku. Dengan penuh tenaga aku menekan pinggulku kuat-kuat sehingga ujung penisku menyentuh dasar kemaluan Surti. Dengan geram dan cukup keras aku menuntaskan rasa yang tak terucapkan itu. Penisku pun akhirnya memuncratkan cairan hangat yang sangat banyak layaknya air mancur dalam liang kemaluan Surti.

Ahh...ssssahhhh.. wuenakkkk..ahh!!"pekik Surti yang memelukku dengan erat, rupanya Surti merasakan "tembakan"dirinya yang ke sekian kali. " Ia mengaku orgasme dan nembak berkali-kali. Saat aku mencabut kemaluanku dari liang vaginanya, ia pun bergegas meraih penisku yang masih basah dan menjilati secara perlahan. Seakan merasakan kenikmatan eskrim ganepo yang panjang dan enak nikmat itu. Sungguh luar biasa pengalaman kami di malam itu.

Kepuasan terlihat dari kedua wajah kami, sambil menatap ke langit-langit kamar, kami pun berpelukan sambil saling melempar senyum ke sesama. Hingga pagi hari kami menghabiskan waktu bersama sampai tertidur lelap. Malam yang panjang, ini menjadi pengalaman terhebat dalam hidupku.


Belum ada Komentar untuk "SURTI REMAJA ANAK PAK KADES"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel