BUAH DADA SEPANAS BARA
Sekitar pukul 10 Malam, Paiman gelisah menatapi jam dinding yang serasa tidak berputar sama sekali. Malam itu terlalu Sepi untuk hanya sekedar diam untuk sosok lelaki berusia 30 tahun yang maskulin, wibawa dan selalu aktif itu. Sayangnya justru Paiman masih melajang hingga kini, sepertinya ia kewalahan mendapatkan wanita idamannya.
Di depan Rumah Paiman itu terlalu sunyi malam itu. Yenny yang baru saja pindah masuk ke rumbah baru itu sering terlihat membersihkan rumah, memasak dan mengurus rumah serta pekarangan depan rumahnya. Paiman sering melempar senyum di setiap kesempatan mereka bertemu.
Paiman juga jadi lebih rajin nonkgrong di depan rumahnya, ia mulai rajin berkebun nanam apapun yang penting bisa tiap hari ngeliatin Yenny di depan. Orang-orang di sekitar juga sudah kenal dan tau pasti karakter Paiman yang ramah, tinggi besar dan tampan itu. Walaupun kulitnya hitam pekat, Paiman juga sosok yang cepat menaklukkan hati wanita.
Awal Mula Seperti Malam Pertama
Suatu ketika di sore hari menjelang malam, Paiman baru saja pulang dari berpergian dan mulai memasukkan mobilnya ke garasi rumah. Pintu depan tidak terkunci, Yenny sempat menghampiri ke rumah Paiman karena kebetulan listrik lagi mati. Suasana hening dan remang ketika itu, bahkan suara jarum jam terdengar lebih keras dari biasanya. Aku baru pulang, dan entah kenapa suasana terasa berbeda. Yenny mengundan aku masuk ke dalam rumahnya untuk bermaksud menyalakan genset biar listrik di rumahnya bisa menyala sementara.
Ketika aku masuk ke dalam rumahnya, aku merasa ada yang aneh, lampu ruang tengah menyala redup, seperti sengaja menunggu sesuatu terjadi. Aku melihatnya duduk sendirian di ruang tamu sambil menunggu ku menyalakan genset.
Pucuk dicinta Ulam pun Tiba
Tapi sebelum alat itu kunyalakan, aku sempat berfikir, suara berisik genset pasti sangat mengganggu nantinya. Akhirnya ku berbalik arah, tatapan kami bertemu.
"Sudah lama Yen mati lampu nya?" Paiman melangkah masuk ke ruang tamu.
"Gak juga, paling 5 menitan.. Genset agak susah dinyalakan.."jawab Yenny yang hanya terlihat berpakaian daster berenda tembus pandang itu. Paiman sudah tau ini pasti kesempatan terbaiknya untuk melancarkan aksinya. Pucuk ditimpa ulam pun tiba.
Saat Yenny berbalik untuk menemani Paiman duduk. Saat itu juga Paiman langsung memeluk Yenny dengan erat dan menciumnya dengan penuh gairah. Yenny tak sempat mengelak, ia hanya pasrah dalam rangkulan Paiman yang bertubuh jauh lebih besar itu.
Nafas keduanya sangat membara, tangan kekar Paiman mulai meremas pantat montoknya Yenny. Tangan Paiman pun seketika berpindah ke lengannya Yenny, mulut berbalut kumis halus pun mulai mengecup payudara Yenny yang mulai membusung ke arah wajah Paiman.
"Pinnnntuu.. Mas..."rintih Yenny.
Paiman melepas Yenny untuk bergerak ke arah pintu dan menguncinya dari dalam. Dengan tak sabar, Paiman merebahkan tubuh Yenny ke kasur.
Tak ada kata yang keluar, tapi udara di antara kami terasa berat. Ada getaran yang tak pernah kami akui sebelumnya. Selama ini kami hanya dua orang yang saling melempar senyum tanpa banyak bicara.
Tapi malam itu berbeda. Jarak kami tinggal satu helaan napas.
“Aku tidak bermaksud…” kata mas Paiman pelan. Aku tahu ia sedang berbohong, pikir si Yenny.
Bukan tentang niat. Tapi tentang rasa yang sudah lama tumbuh.
Tangannya nyaris menyentuhku. Nyaris. Tapi karena desahanku selama ini memang terlihat jelas kalau aku jablay sudah terlalu lama. Mas Paiman pasti bisa memuaskan ku
Dan justru di situ letak keindahan seni dari bercinta itu sendiri. Napasnya semakin hangat di kulitku. Aku bisa merasakan jantungku berdetak lebih cepat. Bukan karena takut. Tapi karena sesuatu yang lebih jujur dari itu. Yenny di bawah tindihan Paiman yang sedang asik menggigit puting payudara Yenny sambil menusuk lembut lubang sempit vagina nya Yenny dengan kedua jarinya.
Hasrat bukan selalu soal fisik.
Kadang ia lahir dari kesepian yang terlalu lama disimpan.
Ia memelukku. Tidak kasar. Tidak tergesa-gesa juga. "Joni mu besar sekali, Mas"Erang Yenny.
"hmm.. mekimu juga masih sangat sempit dan mulus, Yen."balas Paiman.
Äku takut..."bisik Yenny manja.
"Penisku tak kan terasa menyakitkan, aku pelan-pelan yah.."Paiman pun mulai ngebet gak tahan.
"Sini mas biar ku BJ saja.."sambil mengambil posisi jongkok, Yenny pun dengan gesit mengisap buah zakar mas Paiman yang sudah superkeras dan panjang itu.
Yenny pun mulai turun dari sofa, sekarang mas Paiman sudah rebah terlentang, pahanya yang kekar dengan rudal gundul itu siap menyambut Yenny. Mulut bibir mungil Yenny sedikit kewalahan mengisap rudal besar Paiman.
Paiman terus meraung hebat, Yenny pun semakin kencang dengan genggaman tangannya sambil menahan buah zakar Paiman yang besar itu.
Efek After-math
Kedua kaki Yenny mulai ditarik mengarah ke rudal Paiman, tanpa ragu Paiman mulai memasukkan penisnya ke dalam liang vagina Yenny. Sambil mencium bibir Yenny, memainkan lidahnya di dalam mulut Yenny. Ia mulai merasakan kenikmatan, pelan-pelan rasa sakit yang menjalar di kemaluannya berubah menjadi nikmat tiada tara. Dan Yenny mulai merangkul Paiman, "Masukkan semuanya mas, .."pintah Yenny, äyo, lebih kuat lagi..aku uda nanggung nih..."ujar Yenny gak sabaran
ÄHHHHH...."Rini meraung keenakan. Paiman semakin mempercepat goyangan nya secara membabi buta. Terakhir kali ditariknya rudal itu keluar dari lubang Yenny, dan disorongkannya kembali dengan sangat kuat sambil mengerang... Crooooottt.... crooottt.....
Sekitar 10 semprotan cairan kental putih yang hangat menetes tepat di payudara Yenny yang mungil padat berisi itu. Dengan wajah puas Yenny pun sempat menjilati penis Paiman yang masih basah dengan sperma kental itu.
Sejak malam itu, kami tak pernah membicarakannya lagi. Tapi Yenny masih bisa merasakan kenikmatan luar biasa yang dia peroleh dari Paiman. Dia masih merasakan gairah wanitanya dengan lelaki yang sangat macho itu.
Namun setiap kali bertemu, kami sama-sama tahu, ada sesuatu yang pernah hidup di antara kami.
Dan itu tak pernah benar-benar mati.





Belum ada Komentar untuk "BUAH DADA SEPANAS BARA "
Posting Komentar